It is the cache of http://mukaddimah.kopertais3.net/index.php/muk/article/view/25. It is a snapshot of the page. The current page could have changed in the meantime.
Tip: To quickly find your search term on this page, press Ctrl+F or ⌘-F (Mac) and use the find bar.

PENDEKATAN LINGUISTIK DAN SASTRA DALAM TAFSIR: Telaah Pemikiran Amin al-Khuli, Mohammed Arkoun, dan Muhammad Syahrur | Fauzi | Mukaddimah: Jurnal Studi Islam

PENDEKATAN LINGUISTIK DAN SASTRA DALAM TAFSIR: Telaah Pemikiran Amin al-Khuli, Mohammed Arkoun, dan Muhammad Syahrur

Muhammad Latif Fauzi

Abstract


Muslims believe that the Qur’an is authored and revealed by God. It contains Islamic principles, values, and norms by which human should embrace. This model of definition of the Qur’an is akin of God-centred, therefore the Qur’an is framed in the light of theological perspective. Inspite of its theological-foundation, this Holy Scripture develops in the form of human experiences as the language it uses is Arabic. This later understanding leads some Qur’anic experts to expand the study of the Qur’an in the lights of linguistic and literary analysis. The article deals with the methods of linguistic and literary analysis to the Qur’an developed by three important muslim scholars, Amin al-Khuli, Mohammed Arkoun, and Muh‍ammad Syah‍rur. Through the comparative approach, the article finds out that those scholars heavily depends on the aspect of language in their analysis. The differences among the three lie in methodological approaches to the Qur’an. Whereas Al-Khuli emphasizes on literary analysis and Arkoun pays a particular attention to the critical reading to linguistic aspect, and Muhammad Syahrur depends on semiotic and inter-textuality of the Qur’annic readings.

etiap muslim meyakini al-Qur’an sebagai karya Tuhan yang berisi nilai dan norma tentang kehidupan manusia. Implikasi dari keyakinan ini adalah bahwa penafsiran terhadap al-Qur’an cenderung dilakukan dengan menggunakan pendekatan teologis. Di sisi lain, al-Qur’an juga dipahami sebagai teks Ilahi yang tidak lepas dari hakikatnya sebagai teks berbahasa Arab dan terikat konteks ruang dan waktu dalam pengertian historis dan sosiologis. Sebagai hasil ekspresi kebahasaan dalam struktur budaya Arab, para pemikir muslim kontemporer telah mengembangkan model penafsiran baru terhadap al-Qur’an dengan pendekatan bahasa (linguistik) dan sastra. Tulisan ini mengeksplorasi bagaimana aplikasi pendekatan tersebut dengan menganalisis pemikiran tiga tokoh, meliputi Amin al-Khuli, Mohammed Arkoun, dan Muh‍ammad Syah‍rur. Dengan analisis komparatif, penulis menemukan bahwa ketiga tokoh tersebut menggunakan bahasa sebagai sumber analisis. Perbedaan pemikiran mereka terletak pada aspek metodologi, yaitu Al-Khuli menekankan pada metode analisis sastra, Arkoun menggunakan pendekatan linguistik dalam tahap linguistik kritis dan hubungan kritis, dan Muhammad Syahrur lebih berorientasi pada metode semiotik dan intratektualitas.


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Mukaddimah: Jurnal Studi Islam diindeks oleh:

DOAJ--ISJD-LIPI--RESEARCHBIB--Google Scholar--Getcited--JournalTOC--Grovelib--Western Theological Seminary--BASE--